HADIS EKONOMI 5
HADIS
TENTANG LARANGAN DALAM JUAL BELI
JJENIS
JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM
Jual
beli di dalam Islam (ekonomi syariah) termasuk pada bagian muamalah, oleh sebab
itu setiap kegiatan jual beli yang kita lakukan telah di atur oleh agama dan
secara sistematis telah ada aturan kebolehan dan rambu-rambu larangannya. Islam
membuat semua peraturan dan larangan
dalam jual beli untuk mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan kemudharatan,
tujuannya agar terjadi transaksi yang adil dan tidak merugikan satu sama lain,
sebagaimana firman Allah SWT,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ
تِجَارَةًعَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu...” (Q.S An-nisa
[4] : 29)
Hukum
asal jual beli adalah mubah (boleh), sebagaimana dijelaskan pada kaidah fiqh.
اْلأَصْلُ فِي الشُّرُوْطِ فِي
الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ
Artinya
: “Hukum asal semua bentuk muamalah
adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang mengharamkannya (melarang)”
Berikut
beberapa jenis jual beli yang dilarang di dalam Islam :
1. Jual
beli barang yang belum diterima, seorang muslim tidak boleh membeli suatu
barang kemudian menjualnya padahal ia belum menerima barang dagangan tersebut,
karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah SAW, “ Jika engkau membeli
sesuatu, engkau jangan menjualnya hingga engkau menerimanya. “ (H. R.
Tabrani). Sabda Rasulullah SAW, “ Barang siapa membeli makanan, ia jangan
menjualnya hingga menerimanya.” (H. R. Al Bukhari).
2. Jual
beli seorang muslim dari muslim lainnya, seorang muslim tidak boleh jika
saudara seagamanya telah membeli sesuatu barang seharga lima ribu rupiah
misalnya, kemudian ia berkatakepada penjualnya. “ Mintalah kembali barang itu,
dan batlkan jual belinya, karena aku akan membelinya darimu seharga enam ribu,
‘ karena Rasulullah SAW bersabda, “ janganlah sebagian dari kalian menjual
di atas jual beli sebagian lainya, “(H.R. Muttafun ‘alaih).
3. Jual
beli najasy, seorang tidak boleh
menawar suatu barang dengan harga tertentu padahal ia tidak ingin membelinya,
namun ia berbuat seperti itu agar diikuti para penawar lainya kemudian pembeli
tertarik membeli barang tersebut. Seorang muslim juga tidak boleh berkata
kepada pembeli yang ingin membeli suatu barang,” Barang ini dibeli dengan harga
sekian”, ia berkata bohong untuk menipu pembeli tersebut, ia bersekongkol
dengan penjual atau tidak, karena Abdullah bin Umar Ra berkata, “Rasulullah
SAW melarang jual beli najasyi. “ Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah
kalian saling melakukan jual beli najasiyi.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).
4. Jual
beli barang-barang haram dan najis , seorang muslim tidak boleh menjual
barng-barang haram, barang-barang najis dan barang-banrang yang menjurus kepada
haram. Jadi ia tidak boleh menjual minuman keras, babi, bagkai, berhala, dan
anggur yang hendak dijadikan minuman keras, karena dalil-dalil berikut: sabda
rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli minuman keras,
bangkai, babi, dan berhala. Rasulullah SAW bersabda: ‘”Barang siapa menahan
anggur pada hari-hari panen untuk ia jual kepada orang Yaudi, atau orang
kristen atau orang yang akan menjadikan sebagian minuman keras, sungguh ia
menceburkan diri ke neraka dengan jelas sekali. (H.R.Mutaffaqun ‘alaih ).
Bukhori:
حَدَّ
ثَنَا مُحَمَّدُ بَنُ بَشَّا رٍ حَدَّ ثَنَا غُنْدَ رُ حَدَّ ثَنَا شُعْبَةُ عَنْ
مَنْ مَنْصُرٍ عَنْ أَ بِيِ ا لضُّحَى عَنْ مَسْرُ و قٍ عَنْ عَا ئِشَةَ رَ ضِيَ ا
للَّهُ عَنْهَا قَا لَتْ لَمَّا نَزَ لَتْ آ خِرُ ا لْبَقَرَ ةِ قَرَ أَ هُنَّ ا
لنَّبِيُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ فِي ا لْمَسْجِدِ ثُمَّ
حَرَّ مَ ا لتَّجَا رَ ةَ فِي ا نَمْرِ
Dari Aisyah, ia berkata: “Ketika
turun akhir surat al-Baqarah, Nabi membacakanya pada sahabat di masjid kemudian
mengharamkan perdagangan khomer.”
(Mata
lain: Muslim 2985, Nasa’i 4586, Abi Daud 3086, Ahmad 23063) [1]
5.
Jual beli gharar
(ketidakjelasan). Jadi ia tidak boleh menjual ikan di air, atau anak hewan yang
masih dalam perut induknya atau buah-buahan yang belum masak, biji-binijan yang
belum mengeras atau menjual barang tanpa penjelasaan sifatnya. Sabda Rasulullah
SAW. “ Janganlah kalian membeli ikan di air, karena itu gharar.” (H. R.
Mutaffaqun ‘alaih).
Darimi:
أَحبر نا مُحَمَّدُ بنُ عِيْسَى عِيْسَى حَدَّ
ثَنَا يَحْيَ الْقَطّا نُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَ بِى ا لزَّ نَا دِ عَنِ
اْ لأَ عَنْ أَ بِى هُرَ يْرَ ةَ قَا لَ نَهَى رَ سُوْ لُ ا للَّهِ صَلَى ا للَّهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَمْ عَنْ بَيْعِ ا لْغَرَ رِ
Abi Hurairah berkata: ”Nabi
melarang jual beli gharar (spekulasi)
(Mata lain: Muslim 2782 Turmudzi
1151, Nasa’ 14442, Abi daud 2932, Ibnu Majah 2185, Ahmad 9255)
6. Jual
beli dua barang dalam satu akad, sorang muslim tidak boleh melangsungkan dua
jual beli dalam satu akad, namun ia
harus melangsungkan keduanya sendiri-sendiri , karena di dalamnya terdapat
ketidak jelasan yang membuat orang muslim lainya tersakiti atau memakan
hartanya dengan tidak benar. Dua jual beli dalam satu akad mempunyai banyak
bentuk, misalnya penjual berkata kepada pembeli, aku jual barang ini kepadamu
seharga sepuluh ribu kontan atau lima belas ribu sampai waktu tertentu (kredit).”
Setelah itu akad jual beli dilangsungkan dan penjual tidak menjelaskan jual
beli manakah (kontan atau kredit) yang ia kehendaki.
7. Jual
beli urbun (uang muka), seorang muslim tidak boleh melakukan jual beli urbun,
atau mengambil uang muka secara kontan, karena diriwayatkan bahwa Rasulullah
SAW melarang jual beli urbun (Imam Malik dalam Al-Muwatha). Tentang jual
beli urbun, Imam Malik menjelaskan bahwa jual beli urbun ialah
seseorang membeli sesuatu atau menyewa hewan, kemudian berkata kepada penjual,
“Engkau aku beri uang satu dinar degan syarat jika kau membatalkan jual beli,
maka aku memberimu uang sisanya.”
8. Menjual
sesuatu yang tidak ada pada penjual, seorang muslim tidak boleh menjual sesuatu
yang tidak ada padanya atau sesuatu yang belum dimilikinya, karena hal tersebut
menyakiti pembeli yang tidak mendapatkan barang yang dibelinya. Rasulullah SAW
bersabda: “ Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu. “
(H. R. Tarmiz)
9. Jual
beli utang dengan utang, seorang muslim tidak boleh menjual utang dengan utang,
karena itu menjual barang yang tidak ada dengan barang yang tidak ada pula dan
Islam tidak membolehkan jual beli seperti itu.
10. Jual
beli inah, seorang muslim tidak boleh menjual suatu barng kepada orang
lain dengan kredit, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli dengan harga yang
lebih murah, karena jika ia menjul barang tersebut kepada pembeli seharga
sepuluh ribu rupiah, maka itu seperti orang yang meminjamkan uang lima ribu
rupiah dan meminta dikembalikan sebanyak sepuluh ribu rupiah. Hal ini seperti
riba nasi’ah yang diharamkan al-Qur’an dan al-Hadits.
11. Jual
beli Musharah, seorang muslim tidak boleh menahan susu kambing, unta
atau lembu selama berhari hari agar susunya terlihat banyak, kemudian manusia
tertarik membelinya dan ia pun menjual-belikannya. Cara penjualan seperti ini
merupakan kebatilan karena mengandung penipuan. [2]
BENTUK-BENTUK
LARANGAN DALAM JUAL BELI :
1.
Jual beli sah tapi terlarang
Beberapa jual beli yang
tidak diperbolehkan dalam agama, yang menjadi pokok sebab timbulnya larangan
jual beli ini adalah:
a. Menyakiti
kepada si Penjual/Pembeli atau kepada orang lain,
b. Membeli
suatu barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar.
c. Merusak
kepada ketentraman umum,
d. Menyempitkan
gerakan pemasaran,
2.
Jual beli yang terlarang
a. Terlarang
sebab ahliah (ahli akad)
1) Jual
beli orang buta
Jual beli orang buta dikatagorikan sahih menurut jumhur jika barang yang
dibelinya diberi sifat (diterangkan sifat-sifatnya). Adapun menurut ulama
Syafi’iyah, jual beli orang buta tidak sah sebab ia tidak dapat membedakan
barang yang jelek dan yang baik.
2) Jual
beli terpaksa
Menurut Ulama Hanafiyah hukum jual beli orang
terpaksa seperti jual beli fudul (jual beli tanpa seizin pemiliknya) yakni
ditangguhkan (mauquf) oleh karena itu keabsahan ditangguhkan sampai rela
(hilang rasa terpaksa), menurut ulama malikiyah tidak lazim baginya ada khiyar. Adapun menurut Ulama Syafi’iyah ddan
Hanabilah jual beli tersebut tidak sah sebab
tidak ada keridhaan ketika akad.
3) Jual
beli fudul (jual beli tanpa seizin pemiliknya)
adalah jual beli milik orang tanpa seizin pemiliknya.
Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah jual beli ini ditangguhkan sampai ada
izin dari pemiliknya,adapun menurut ulama Hanabilah dn syafi’iyah jual beli
fudul tidak sah.
4) Jual
beli yang terhalang.
Jual beli disini adalah terhalang karena kebodohan, bangkrut ataupun
sakit, karena orang bodoh suka menghamburkan uang (pemboros).
5) Jual
beli malja’ (jual beli orang yang sedang bahaya). Jual beli malja’ adalah jual
beli orang yang sedang dalam bahaya yakni untuk menghindari dari perbuatan
zalim. Jual beli tersebut menurut Ulama Hanafiyah adalah fasid sedangkan
menurut Ulama Hanabilah adalah batal.
b. Terlarang
sebab sighat
1) Jual
beli muatah
yaitu jual beli yang tidak memakai ijab dan qobul.
Sebagian besar Ulama’ sepekat bahwa jual beli ini tidak sah tapi sebagian Ulama
Syafi’iyah seperti Imam Nawawi membolehkan jual beli seperti ini dikembaikan
kepada kebiasaan.
2) Jual
beli melalui surat atau melalui utusan
3) Jual
beli dengan isyarat atau tulisan
4) Jual
beli yang tidak ada di tempat akad
5) Jual
beli tidak bersesuaian antara ijab dan qobul
6) Jual
beli munjiz berdasarkan dengan suatu syarat atau yang ditangguhkan pada waktu
yang akan datang.
c. Terlarang
sebab ma’qud alaih (barang yang dijual)
1) Jual
beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada
2) Jual
beli yang tidak dapat diserahkan
3) Jual
beli garar
4) Jual
beli barang najis dan yang terkena najis
5) Jual
beli air
6) Jual
beli barang yang tidak jelas (majhul)
7) Jual
beli barang yang tidak ada di tempat (gaib)
tidak dapat dilihat
8) Jual
beli sesuatu yang belum dipegang
9) Jual
beli buah-buahan atau tumbuhan
d. Terlarang
sebab syara’
1) Jual
beli riba
2) Jual
beli dengan uang dari barang yang diharamkan
3) Jual
beli barang dari hasil pencegatan barang
4) Jual
beli waktu azan Jum’at
5) Jual
beli anggur untuk dijadikan khamar
6) Jual
beli induk tanpa anaknya yang masih kecil
7) Jual
beli barang yang dibeli oleh orang lain
8) Jual
beli memaki syarat[3]
[1]
Mardani, Ayat-ayat dan Hadis Ekonomi Syariah ( Jakarta: Rajawali pers,
2014), hal. 119-128
[2] Hakim Lukman, Prinsip-prinsip
Ekonomi Islam (Jakarta : Erlangga, 2005), hal. 114-116
[3] Mukarromah S “Jual Beli
Menurut Hukum Islam Dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen”Digilib.uinsby.ac.id
diakses pada 3 Oktober 2017.
Komentar
Posting Komentar